METRO UPDATE

METRO LATEST

Kado Kemerdekaan Paling Indah: Senyum Warga Dusun 4 & 5 Pathau Diterangi Cahaya Listrik PLN

📷 Okkiboy  Dari Remang Pelita Menuju Cahaya Terang: Kado Kemerdekaan yang Mengubah Nasib Warga Pathau
 
17 Agustus 2026 — Selama bertahun-tahun, malam di Dusun 4 dan 5 Desa Pathau, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, hanya dihiasi cahaya remang pelita yang berasap dan memakan biaya besar. Namun di Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana itu berubah total. Lampu-lampu rumah warga kini menyala terang berkat aliran listrik PLN yang resmi masuk ke wilayah mereka — sebuah kado kemerdekaan yang terasa lebih dari sekadar penerangan.
 
Penyalaan perdana listrik secara simbolis di salah satu rumah warga di Desa Pathau, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang.

    Semua bermula setelah uji coba penyerahan jaringan listrik pada 21 Juli 2026 lalu. Saat ini, sudah ada 57 rumah warga yang langsung menikmati aliran listrik pertama, dan jumlah itu dipastikan terus bertambah seiring antusiasme warga yang ingin segera memasang listrik di rumahnya.
 
Bagi Sadrak Taneo, Ketua RW 08 Desa Pathau, momen ini tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Matanya berkaca-kaca saat melihat satu per satu rumah di dusunnya bercahaya. "Selama ini kami merasa terbebani — bukan hanya oleh gelap, tapi oleh biaya yang tak masuk akal demi sekadar terang," ujarnya haru.
 
Para petugas PLN UP2K Kupang saat melakukan pengecekan akhir gardu listrik di Desa Pathau sebelum menyalakan listrik kepada para pelanggan.

     Dulu, warga harus merogoh kocek hingga Rp300.000 per bulan hanya untuk membeli minyak tanah pelita. Satu liter minyak habis dalam dua hari. Bandingkan dengan tetangga yang sudah berlistrik — cukup bayar sekitar Rp100.000 untuk dua hingga tiga bulan. Belum lagi saat ada acara warga: biaya penerangan bisa melonjak hingga Rp200.000 sekali acara.
 
Kini, semua itu berlalu. "Terima kasih sebesar-besarnya kepada PT PLN (Persero) UIW NTT, UP2K Kupang, ULP Oesao, dan pemerintah daerah. Hari ini kami benar-benar merasakan makna merdeka — merdeka dari gelap, merdeka dari biaya berat," tambah Sadrak.
 
Hadirnya listrik membawa perubahan yang terasa seketika: anak-anak bisa belajar di malam hari tanpa asap pelita dan tanpa takut kehabisan minyak. Para pengrajin mebel yang dulu harus mengeluarkan biaya besar untuk genset kini bisa bernapas lega — biaya operasional turun drastis, dan keuntungan pun bertambah.
 
"Listrik bukan sekadar menyalakan lampu. Listrik adalah pintu menuju peluang — peluang berusaha, peluang belajar, peluang berkembang," ujar Albertus Koko Hendriyanto, Manager PLN UP2K Kupang. Ia berharap energi yang mengalir ini bisa melahirkan wirausaha-wirausaha baru di desa tersebut.
 
Senada dengan itu, General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistiyono, menyampaikan bahwa peresmian ini adalah bukti nyata komitmen PLN untuk menghadirkan pemerataan energi hingga ke pelosok desa. "Momen kemerdekaan ini menjadi lebih bermakna ketika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Listrik adalah kunci untuk membuka akses pendidikan dan peningkatan kesejahteraan. Semoga cahaya ini membawa kebahagiaan dan kemajuan bagi warga Pathau," ungkapnya.
 
PLN berjanji tak berhenti di sini. Bersama pemerintah daerah, pihaknya terus berupaya memperluas jangkauan listrik di seluruh NTT, agar semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati kemerdekaan sesungguhnya — hidup terang, mandiri, dan sejahtera.
Redaksi 📝 Rocky 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

 𝐖𝐚𝐥𝐢 𝐊𝐨𝐭𝐚 𝐊𝐮𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐇𝐚𝐝𝐢𝐫 𝐌𝐞𝐬𝐤𝐢 𝐁𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐏𝐮𝐥𝐢𝐡, 𝐃𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐀𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐅𝐢𝐧𝐚𝐧𝐜𝐞 𝐊𝐮𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐖𝐮𝐣𝐮𝐝𝐤𝐚𝐧 𝐌𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭

GUBERNUR MELKI LAKA LENA TEGASKAN SENIN 20 JULI TETAP BERAKTIVITAS NORMAL — SURAT EDARAN LIBUR NONTON FINAL PIALA DUNIA DIPASTIKAN HOAKS

𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯𝘢 𝘉𝘶𝘯𝘯𝘢 𝘒𝘢𝘭𝘢, 𝘚𝘦𝘯𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘋𝘗𝘋 𝘗𝘈𝘗𝘗𝘙𝘐 𝘕𝘛𝘛, 𝘋𝘪𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘓𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘞𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘚𝘦𝘬𝘳𝘦𝘵𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘓𝘶𝘳𝘢𝘩 𝘈𝘪𝘳𝘯𝘰𝘯𝘢