𝙸𝚛. 𝙷𝚎𝚛𝚘𝚕𝚍 𝙳𝚎𝚟𝚢 𝙴𝚕𝚒𝚊𝚜 𝙻𝚘𝚊𝚔 𝙺𝚊𝚕𝚊𝚞 𝙰𝚖𝚎𝚍 𝙱𝚒𝚜𝚊, 𝙼𝚎𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊 𝙿𝚊𝚛𝚒𝚠𝚒𝚜𝚊𝚝𝚊 𝙺𝚞𝚙𝚊𝚗𝚐 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔?
BELAJAR DARI AMED: KEBERSIHAN DAN KERAPIAN SEBAGAI KUNCI MENGHIDUPKAN PARIWISATA KUPANG
Catatan Lapangan Om Devy, Insinyur dan Pemerhati Pembangunan
KUPANG — Metro Flobamora
Ada banyak cara untuk membangun pariwisata. Namun, terkadang pelajaran paling penting justru bisa ditemukan dari sebuah tempat yang ukurannya tidak sebesar kota.
Hal itu yang dirasakan Om Devy, seorang insinyur asal Kupang yang saat ini sedang berada di Bali untuk pekerjaan konstruksi jalan. Dalam kunjungan lapangannya selama lebih dari satu jam di kawasan Amed, Bali, ia menemukan sesuatu yang sederhana tetapi menurutnya sangat penting: kebersihan, kerapian lingkungan, dan penataan kawasan ternyata bisa menjadi kekuatan besar bagi pariwisata.
Menariknya, pengamatan itu dilakukan sekitar pukul 17.00 WITA — waktu ketika aktivitas masyarakat dan wisatawan sudah berlangsung sejak pagi. Namun Om Devy justru mengaku sulit menemukan sampah plastik atau bungkus makanan yang berserakan di sepanjang jalan kawasan tersebut.
“Kalau mau bilang sejak pagi sampai sekarang sudah banyak orang buang sampah, seharusnya sudah kelihatan. Tetapi di lokasi yang kecil begini, sampah plastik atau bungkusan hampir tidak kelihatan di jalan,” demikian catatan refleksinya.
Bagi Om Devy, kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan petugas kebersihan. Ada budaya menjaga lingkungan, keteraturan, penataan bangunan, serta kesadaran bersama yang membuat kawasan wisata terasa nyaman.
Amed sendiri menunjukkan bagaimana kawasan yang relatif kecil dapat tumbuh menjadi tujuan wisata yang dikenal wisatawan mancanegara. Jalan yang tertata, lingkungan yang bersih, usaha wisata yang hidup, serta pemandangan alam yang menjadi daya tarik utama berpadu menjadi satu ekosistem pariwisata yang utuh.
KUPANG SEBENARNYA PUNYA MODAL YANG LEBIH BESAR
Dari pengamatan tersebut, muncul pertanyaan besar: jika kawasan seperti Amed yang wilayahnya relatif kecil bisa bergerak maju dalam pariwisata, mengapa Kupang tidak dapat melakukan hal yang sama?
Padahal Kupang memiliki modal alam yang sangat kuat. Terdapat laut, garis pantai, kawasan pesisir, kekayaan budaya, sejarah, serta akses strategis menuju berbagai destinasi wisata di Nusa Tenggara Timur. Jika dikembangkan secara terintegrasi, potensi wisata Kota Kupang dan daerah sekitarnya mampu menjadi pintu masuk utama yang kuat bagi wisatawan yang ingin menjelajahi seluruh NTT.
Karena itu, menurut Om Devy, pemerintah tidak cukup hanya membangun atau mempercantik satu titik kawasan saja.
Taman kota dan ruang publik memang penting. Namun yang jauh lebih krusial adalah membangun kawasan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Ia bahkan mengusulkan agar penataan kawasan wisata tidak berhenti pada satu lokasi terpisah, melainkan disusun dalam satu konsep pengembangan besar. Contohnya menyatukan pengelolaan dari kawasan Paradiso menuju Lasiana, dari depan Aston menuju Lasiana, hingga mencakup kawasan Pasir Panjang dan sekitarnya.
“Kenapa tidak digarap kawasan secara utuh? Jangan hanya fokus pada sepotong taman. Kalau kawasan dari Paradiso sampai Lasiana, dari depan Aston sampai Lasiana, sampai ke arah Pasir Panjang ditata dengan baik, kemudian dipromosikan sebagai satu kesatuan kawasan wisata, tentu ceritanya akan berbeda,” ujarnya.
BUKAN HANYA SEKADAR MEMBANGUN JALAN
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti sekadar pada pengaspalan permukaan jalan.
Jalan yang bagus harus diimbangi dengan trotoar yang nyaman dilalui pejalan kaki. Sistem drainase harus berfungsi optimal. Pengelolaan sampah harus tertib dan teratur. Bangunan di sepanjang koridor wisata perlu ditata agar tidak semrawut. Ruang hijau harus tetap dijaga kelestariannya. Sementara itu, pedagang dan pelaku usaha juga perlu diberikan tempat yang layak dan tertata rapi.
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang semata-mata karena ingin melihat laut, melainkan juga bisa menikmati pengalaman berjalan kaki yang nyaman, menjelajahi ragam kuliner khas, menyaksikan langsung pertunjukan budaya lokal, serta merasakan suasana kota yang bersih, aman, dan menyenangkan.
Inilah yang menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Kupang: bukan sekadar bagaimana cara mendatangkan wisatawan, melainkan bagaimana membuat mereka yang sudah datang merasa betah, nyaman, dan memiliki keinginan kuat untuk berkunjung kembali di masa mendatang.
KUPANG PUNYA LAUT, NTT PUNYA GUNUNG
Om Devy menegaskan pula bahwa pembangunan pariwisata Kupang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri atau terpisah dari daerah lain.
Kota Kupang seharusnya ditempatkan sebagai pintu gerbang utama sekaligus wajah promosi pariwisata seluruh Nusa Tenggara Timur.
Konsepnya bisa sangat sederhana: pesona bahari Kupang, keindahan pantai Kolbano, hingga kesejukan pegunungan di Timor Tengah Selatan atau Soe, dipromosikan sebagai satu rangkaian paket perjalanan wisata yang utuh.
Dengan konsep tersebut, wisatawan yang datang tidak akan menghabiskan waktu hanya di satu tempat saja. Mereka dapat menikmati keindahan pesisir pantai, lalu melanjutkan perjalanan menjelajahi kekayaan alam yang berbeda di daerah lain.
Namun seluruh rencana besar itu bergantung pada satu syarat mutlak: tersedianya kawasan yang bersih, tertata rapi, dan memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang berkunjung.
SAATNYA MENJADIKAN KEBERSIHAN SEBAGAI INVESTASI UTAMA PARIWISATA
Inti pesan dari Om Devy sangatlah sederhana.
Kupang sama sekali tidak kekurangan potensi alam maupun budaya. Yang masih dibutuhkan adalah kemauan kuat untuk menata segala sesuatu dengan benar, konsistensi menjaga kebersihan lingkungan, serta keberanian menyusun rencana pembangunan kawasan jangka panjang yang berkelanjutan.
Pemerintah memegang peranan sentral dalam hal ini. Akan tetapi, masyarakat luas, pelaku usaha, pemilik bangunan, kelompok komunitas, hingga wisatawan sendiri memiliki tanggung jawab yang setara.
Sebab destinasi wisata yang berkualitas tidak lahir semata-mata dari proyek pembangunan pemerintah. Ia tumbuh dan terbentuk dari kebiasaan bersama menjaga lingkungan tempat tinggal serta merawat keindahan ruang publik.
Amed memberikan pelajaran kecil namun sangat berharga: kawasan yang ukurannya tidak besar sekalipun mampu berubah menjadi magnet penarik wisatawan apabila kebersihan, kerapian, kualitas pelayanan, serta potensi alam dikelola dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Kini pertanyaannya tinggal satu hal:
Jika Amed yang wilayahnya jauh lebih kecil mampu melakukannya, mengapa Kupang tidak bisa?
Kita memiliki laut yang indah. NTT menyimpan pesona pegunungan dan alam yang luar biasa. Kita juga mewarisi budaya serta sejarah yang tak kalah menarik untuk dibagikan kepada dunia.
Yang paling diperlukan saat ini adalah komitmen nyata untuk mengubah segala potensi besar itu menjadi destinasi wisata yang berkelas.
Bersihkan kotanya. Tata lingkungannya. Hidupkan potensi wisatanya.
Sebab hakikat pariwisata bukan sekadar urusan mendatangkan orang dari luar wilayah.
Pariwisata adalah tentang menjamin mereka datang, merasa nyaman, tinggal lebih lama, menghidupkan perekonomian daerah, serta pulang membawa cerita indah yang membuat mereka ingin kembali lagi suatu saat nanti.
Komentar
Posting Komentar