𝑫𝒊 𝑻𝒆𝒏𝒈𝒂𝒉 𝑫𝒊𝒂 𝑳𝒖𝒑𝒂 𝑺𝒆𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏𝒚𝒂, 𝑨𝒌𝒖 𝑴𝒂𝒔𝒊𝒉 𝑹𝒖𝒎𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂
📷 Okkiboy 17 juli 2026
kisah nyata .
24 Tahun Mencintai,7 Tahun Bejuang.
kupang - Metro Flobamora
Aku anak bungsu.
Dari kecil hidupku selalu dimanja. Apa saja yang kuinginkan, tinggal minta. Keluarga sering berkata, "Kamu mah tinggal bahagia aja."
Sampai akhirnya aku bertemu dia.
Seorang pegawai honorer dengan gaji seadanya. Tapi caranya tertawa, caranya memandangku, membuatku lupa semua nasihat orang-orang tentang pasangan yang "layak".
Kami menikah. Dan 24 tahun kami lewati bersama.
24 tahun itu penuh warna.
Ada hari kami makan berdua hanya dengan telur dan sambal. Ada masa aku naik jabatan menjadi PNS, sementara dia tetap setia di tempat yang sama.
Namun di tengah perjalanan, aku menemukan rahasia yang menyakitkan: dia memiliki ketergantungan.
Malam itu aku menangis sampai habis air mataku. Keluarga menyarankan aku untuk pergi.
Tapi aku memilih diam. Tak bercerita pada siapa pun betapa beratnya beban yang kupikul.
Aku hanya ingat janji yang ucapkan di pelaminan: Suka maupun duka. Dan keluargaku tetap mendukung kami, karena mereka tak pernah tahu betapa dalamnya luka yang kami sembunyikan.
Lalu badai yang lebih besar datang.
Usianya 46 tahun. Dia terkena stroke.
Awalnya ingatannya mulai hilang. Dia lupa jalan pulang, lupa nama benda-benda yang ada di sekelilingnya.
Hari itu di ruang dokter saraf adalah hari paling menyakitkan dalam hidupku.
Dokter menunjuk kakak-kakaknya satu per satu. "Ini siapa?"
Dia hanya menggeleng perlahan. Matanya kosong, tak mengenali siapa pun.
Lalu dokter menoleh padaku, lalu bertanya: "Kalau ini?"
Jantungku serasa berhenti berdetak sejenak.
Dia terdiam lama sekali. Dalam hati aku berdoa sambil menahan napas, Ya Tuhan... jangan sampai dia menyebut nama orang lain... 🤭
Perlahan bibirnya bergerak.
Dan dia menyebut namaku.
Namaku. Bukan nama siapa pun yang lain.
Aku keluar dari ruangan itu sambil menutup mulut erat-erat, agar tak terdengar isak tangisku yang tertahan.
Terima kasih, Ya Tuhan... Di saat dia hampir lupa segalanya, aku masih menjadi rumah yang paling akhir dia ingat.
Aku tak pernah menyerah.
Selama dua tahun kami berjuang dari rumah ke rumah, pelan tapi pasti.
Dengan sisa penghasilan yang terbatas, aku mendatangkan terapis fisik dan terapis ingatan ke rumah selama satu tahun penuh. Agar aku tetap bisa bekerja, dan agar dia bisa kembali pulih.
Dan Tuhan mengabulkan doa-doaku.
Dua tahun berlalu, dia perlahan bisa beraktivitas kembali. Bahkan bisa kembali bekerja.
Setiap pagi aku mengantarnya. Setiap sore aku menjemputnya.
Empat tahun kami lewati rutinitas itu. Aku menjadi supirnya, tempat dia bersandar, dan penyemangatnya setiap hari.
Tujuh tahun berlalu begitu saja.
Tujuh tahun itu terasa sangat panjang untuk lelah, sangat panjang untuk sabar, namun juga sangat panjang untuk terus mencintai orang yang sama, dengan cara yang berbeda-beda.
Tahun 2020, Tuhan memanggilnya pulang.
Di hari itu, anehnya aku tidak menangis sekeras yang kukira.
Karena selama tujuh tahun sebelumnya, air mataku sudah habis tertumpah di ruangan terapi, di jok mobil saat mengantar jemputnya, dan di setiap sujud malam saat aku memohon kekuatan pada-Nya.
Yang tersisa hanyalah rasa syukur.
Terima kasih sudah mengajariku: cinta bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna.
Cinta adalah memilih untuk tetap tinggal, mengobati luka bersama, dan tak pernah melepaskan genggaman tangan, walau badai datang berkali-kali.
Kini aku masih menjadi PNS. Masih menjadi anak bungsu yang disayangi keluarga.
Namun aku bukan lagi aku yang dulu manja dan tak tahu rasanya berjuang.
Aku adalah perempuan yang pernah menjaga cinta selama 24 tahun, dan berjuang sepenuh hati untuknya selama 7 tahun.
#Restinheaven_suami🥀
Komentar
Posting Komentar